Diam, Lalu Tenggelam
Assalamu’alaikum, Sahabat pernahkah kita mempertanyakan, mengapa zaman sekarang kemaksiatan, kezaliman dan kejahatan begitu mudah kita temukan. Semakin banyak orang berbuat sekehendak hatinya. Menuhankan hawa nafsunya. Mengabaikan norma kemanusiaan bahkan agama.
Dunia terbalik nyatanya bukan hanya ada dalam sinetron televisi. Contohnya, saat ini laki-laki dan perempuan tidak sedikit yang bertukar posisi. Dengan berbagai dalih yang benar jadi salah, keliru dianggap wajar. Dulu, perilaku menyimpang bikin orang jengah. Sekarang, ia malah punya banyak pembela.
Kita tentu prihatin dengan kondisi ini. Masalahnya, hidup pada zaman now serba salah. Nasehat kebaikan sering disalah artikan. Katanya ” Jangan usil , kamu siapa? hidup kami bukan urusanmu”. Karena malas dicap “tukang nyinyir” atau takut kena pasal perbuatan tidak menyenangkan, akhirnya banyak yang lebih memilih bungkam.
Konsekuensi diam sangat fatal. Orang lain berbuat, tak berarti kita bebas imbas. Jika kita semena-mena, orang lain pun tak luput dari dampak. Segelintir orang tak peduli lingkungan, banjirnya sekampung kebagian. Seorang laki-laki terjangkit HIV, ketika menikah istri dan anaknya tertular juga meski tak ikut melakukan dosanya.
Sungguh benar sabda baginda nabi. Rosulullah SAW mengibaratkan masyarakat seperti penumpang dalam perahu. Ketika ada yang melubangi perahu, meski untuk memudahkan mendapatkan air maka harus ada yang mencegahnya. sebab jika perahu tergenang air dan karam, semua penumpang akan ikut tenggelam.
Dari An Nu’man bin Basyir rahiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari no. 2493).
Jelaslah, diam ketika melihat kemunkaran, bukanlah solusi. Menyebarkan risalah agama dan pesan nabi yang kita pahami bukan hanya tugas ulama. Dakwah, menyeru pada kebaikan telah Allah perintahkan pada seluruh kaum muslimin tanpa kecuali. Jika ingin perahu kehidupan yang kita tumpangi selamat mengarungi samudra. Maka kita harus bersama-sama menjaganya. Tanamkan rasa peduli. Jangan diam. Sebab diam, sama saja dengan mengijinkan diri kita ikut tenggelam.
“(Dan) Orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lainnya. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allâh dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allâh dan sesungguhnya Alah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. t-Taubah: 71).
Wallahu a’lam [Binar Iftikar]