15 Mei 1948 dikenal sebagai Nakba. Dalam bahasa Arab Nakba berarti “malapetaka”. Nakba adalah awal bencana bagi Palestina. Dimana sekitar 750.000 hingga 800.000 warga terusir dari tanah sendiri.  Dan hari ini, setelah lebih 7 dekade, Nakba masih belum sirna dari bumi Palestina.

Siapapun akan menangis menyaksikan penderitaan warga Palestina. Tapi ada yang lebih menyakitkan dari kejamnya penjajahan. Yaitu diamnya para penguasa muslim. Dari 57 negara belum ada satupun yang mengirimkan pasukan militernya. Untuk mengusir penjajah Isr4el dari bumi Aqsho itu.

Dalam 78 tahun peringatan Nakba, organisasi internasional seperti Liga Arab dan BRICS kompak bersuara. Menyerukan gencatan senjata tak bersyarat. Penarikan penuh pasukan Isr4el dari jalur Gaza. Mendukung Palestina merdeka melalui solusi dua negara. Kemudian menghimbau dunia internasional terus memberikan jaminan distribusi bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan bagi rakyat Palestina. (Antara News)

Seruan saja tak akan membuat zionis diam. Kecaman tanpa aksi nyata hanya akan membuat penjajah  semakin pongah. Teguran hanya angin lalu. Gencatan senjata saja selalu dilanggar, meski dunia mengutuk keras kekejamannya.

Sampai hari ini, ada 9.400 warga Palestina yang ditahan dalam penjara Isr4el. Diantaranya terdapat anak-anak dan perempuan. Banyak ibu terpisah dari anak-anaknya. Ratusan anak jauh dari keluarga. Mereka menjadi sasaran penyiksaan, penindasan, dan pelecehan. (international.sindonews.com)

Pada 27 Mei 2026, ketika negara lain bersukacita merayakan lebaran, Gaza beribadah diatas puing-puing reruntuhan. Sebab militer Isr4el kembali membombardir jalur Gaza tepat pada malam Idul Adha. Menyasar  apartemen di distrik Al-Ramal, Gaza Barat. Menewaskan banyak warga sipil, puluhan terluka termasuk anak-anak. Zionis bahkan tak segan mengebom gudang bahan makanan di Khan Yunis yang menyebabkan hilangnya persediaan makanan bagi rakyat Gaza yang kelaparan (IG: gazaupdate).

Organisasi Internasional Lumpuh

Sistem kapitalisme yang digadang-gadang anti kolonialisme dan menjungjung tinggi HAM, ternyata tidak mampu menghapuskan penjajahan. Yang terjadi justru penjajahan dan kejahatan kemanusiaan semakin tak terkendali. Berbagai solusi yang ditawarkan dunia organisasi internasional maupun regional seperti macan tak bergigi.

PBB sebagai dewan keamanan dunia lumpuh. Dengan mudah diveto negara adidaya pendukung Isr4el. Dalam kebijakan solusi 2 negara, PBB membagi tanah palestina menjadi 2 bagian. Untuk palestina dan penjajah. Mendukung Palestina merdeka dengan mengakui eksistensi Isr4el yang nyata-nyata telah merampas tanah milik kaum muslimin.

BOP (Board of Peace) walalupun anggotanya didominasi negeri-negeri muslim, tetapi segala kebijakan cenderung ada di tangan Amerika dan Isr4el. Palestina bahkan tidak diberi ruang untuk menentukan nasibnya sendiri. Ketika PM Israel memerintahkan militernya untuk menguasasi 70% Jalur Gaza, organisasi inipun diam seribu bahasa.

Maka jelaslah. Menghentikan derita Palestina tak bisa mengandalkan PBB. Karena Amerika sebagai sekutu terkuat Israel, mustahil berpihak pada Palestina. BOP pun setali tiga uang. Liga Arab, BRICS terbatas pada kecaman dan seruan. Jika terus mengandalkan mereka, maka pembebasan Palestina sepertinya akan terus berputar di meja diplomasi.

Membangkitkan Kekuatan Umat

Membebaskan Palestina tidak cukup dengan memboikot produk penjajah. Atau mengirimkan bantuan kemanusiaan. Melawan penjajah dan sekutunya membutuhkan sebuah kekuatan yang mampu mengimbanginya. Bukan sekadar kecaman dan kutukan.

Umat Islam sejatinya mempunyai potensi besar yang mampu mengimbangi kekuatan Isr4el dan sekutunya. Sayangnya kekuatan ini terbelenggu oleh sekat-sekat nasionalisme dalam 57 negara. Dibatasi kebijakan dan kepentingan antar bangsa. Padahal mulai dari populasi, aspek ekonomi dan jangkauan geografisnya sangat strategis. Bahkan potensi kekuatan militer jika disatukan akan mampu membuat gentar adidaya sekalipun.

Kita tentu ingat, bagaimana kalangkabutnya dunia ketika selat Hormuz ditutup pada konflik Iran. Bayangkan jika seluruh potensi dunia muslim dikeluarkan. Penjajah dan sekutunya sejatinya tidak punya kekuatan andai para penguasa muslim tidak menfasilitasi kepentingan mereka.

Yang Palestina butuhkan, adalah seorang pemimpin yang mampu memobilisasi kekuatan umat. Melalui sebuah kepemimpinan tunggal yang berlandaskan syariat. Yang mampu membangkitkan semangat perlawanan. Seorang pemimpin yang tulus seperti Salahuddin al-Ayubi. Yang akan mengakhiri eksistensi penjajah lenyap sepenuhnya dari bumi Palestina.

Mengusir penjajah dan memberikan pertolongan pada Palestina merupakan tanggung jawab kaum muslimin Allah SWT telah berfirman :

(Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan” [QS Al-Anfal ayat 72]

Nakba adalah alarm kebangkitan dan urgensi persatuan umat Islam. Bersungguh-sungguh dalam berupaya mengembalikan kemuliaan umat bukan saja tanggung jawab tapi bukti keimanan. Mari kita do’akan semoga saudara-saudara kita di Palestina segera terbebas dari belenggu penjajahan.

Wallahu a’lam  [Binar Iftikar]