Melucuti Hamas, Membungkam Gaza: Damai Palsu ala Trump dan Zionis
Berita:
Pada 31 Juli 2026, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Board of Peace (BoP) telah mencapai kesepakatan bersejarah untuk pelucutan senjata secara lengkap (complete disarmament) bagi Hamas dan kelompok bersenjata lainnya di Jalur Gaza. Proses demiliterisasi disebutkan akan dilakukan secara bertahap dan diverifikasi pada setiap fasenya. Sebagai imbalan, penarikan pasukan Israel dijadwalkan mundur secara bertahap seiring dengan progres pelucutan senjata. Pasca-kesepakatan, keamanan Gaza akan dikelola oleh Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force) bersama dengan kepolisian baru Palestina. (detikNews)
Komentar:
“Misi Damai” ala Trump patut diwaspadai. Sebab melucuti Hamas pada dasarnya sama saja dengan membungkam kekuatan perlawanan Gaza. Sejarah telah membuktikan bahwa Zionis tidak pernah mengenal kata damai. Jargon “damai” hari ini berpotensi menjadi strategi baru untuk melemahkan perjuangan dan menguasai seluruh wilayah Palestina tanpa perlawanan berarti.
Sikap Tel Aviv pun tidak menggubris kesepakatan ini. Seorang pejabat senior bahkan membocorkan bahwa penarikan militer Israel tidak akan terjadi dalam waktu dekat (Al Jazeera, Sabtu 1/8/2026). Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan tegas menolak dan menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik pasukan dari Gaza maupun menghentikan serangan. Menteri Keamanan Itamar Ben-Gvir bahkan menyebut perjanjian itu “tidak dapat diterima” dan menuntut agar “pembunuhan di Gaza harus berlanjut”.
Fakta di lapangan menunjukkan hal yang sama. Tak berselang sehari setelah pengumuman, pada 1-2 Agustus 2026, Zionis kembali menembakkan rudal melalui serangan udara yang menghantam Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir el-Balah. Akibatnya, gudang obat-obatan hancur, tenda-tenda pengungsian rata dengan tanah, dan sedikitnya delapan warga Gaza tewas dalam serangan udara tersebut. (idntimes)
Militer Israel (IDF) juga kembali memperluas wilayah kendalinya di Jalur Gaza dengan menggeser penanda blok beton atau “garis kuning” (yellow line) di sejumlah titik strategis. Hal ini memicu gelombang pengungsian baru dan memaksa ribuan warga Palestina kembali meninggalkan tempat tinggal mereka. Mengutip Reuters pada Rabu (29/7/2026), perluasan zona militer mencakup wilayah Zeitoun, Tuffah, Shejaia di Kota Gaza, serta Deir al-Balah, Khan Younis, dan Rafah utara. Warga menyebut pergeseran garis kuning membuat mereka tidak memiliki pilihan selain mengungsi demi menghindari operasi militer Israel. (cnbcindonesia)
BoP Bukan Solusi
Board of Peace (BoP) pada hakikatnya adalah alat hegemoni AS yang dikendalikan langsung oleh Trump dengan kewenangan mutlak. BoP dirancang untuk memastikan kepentingan Israel di tengah meningkatnya suara penolakan dunia internasional terhadap genosida. Ketika mayoritas negara anggota PBB mendukung kemerdekaan dan kedaulatan Palestina, AS justru menjadi negara yang konsisten melakukan penolakan.
Sebagai “bapa asuh penjajah”, AS sejatinya paham betul bahwa ambisi Zionis adalah menguasai wilayah Palestina secara total. Karenanya, memasrahkan urusan Palestina pada BoP sama saja dengan menyerahkan tanah kaum muslimin pada penjajah dan sekutunya. Kehadiran para pemimpin negeri-negeri muslim dalam BoP tak membawa pengaruh berarti, sebab faktanya Zionis tetap leluasa memegang kendali atas keamanan, perbatasan, dan sumber daya Gaza.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan di Gaza, sejak Oktober 2023, korban tewas warga Palestina di Jalur Gaza telah melampaui 72.945 jiwa. Jika memang benar-benar ingin menyelamatkan rakyat Gaza, mengapa propaganda “demi penyelamatan penduduk Gaza” baru muncul sekarang, setelah puluhan ribu warga menjadi korban?
Proyek “New Gaza” juga diinisiasi oleh lingkaran politik dan bisnis AS di bawah dukungan pemerintahan Trump, dengan Jared Kushner (menantu sekaligus penasihat Trump) sebagai tokoh utama yang mengatur rencana induk (master plan) pembangunan. Jika proyek ini memang untuk rakyat Gaza, mengapa pengusiran Zionis terhadap warga Gaza terus dibiarkan tanpa pembelaan? Bahkan hari ini, Militer Israel telah menguasai sekitar 70% hingga 77% dari total luas wilayah Jalur Gaza yang keseluruhannya sekitar 365 km². (wikipedia)
Jika mencermati tugas-tugasnya, kehadiran Pasukan Stabilisasi Internasional juga tidak berfungsi untuk membebaskan Palestina dari kependudukan, tetapi lebih cenderung mengamankan misi kesepakatan. Padahal Gaza membutuhkan lebih dari sekadar pasukan perdamaian. Rakyat Gaza memerlukan dukungan tentara dengan kekuatan militer yang mampu menghadang kekejaman Zionis dan mengusirnya dari tanah mereka.
Dengan demikian, BoP dan misi damainya bukanlah solusi bagi rakyat Palestina, melainkan akal-akalan Trump dan Zionis untuk melegitimasi penjajahan tanpa perlawanan.
Solusi Hakiki: Jihad dan Khilafah
Syariat Islam mampu menjawab segala persoalan umat manusia, sebab panduannya berasal dari Allah SWT Yang Maha Sempurna. Dalam menghadapi agresor seperti Zionis Israel, Allah SWT berfirman:
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu.” (QS Al-Baqarah [2]: 190)
“Bunuhlah mereka (yang memerangimu) di mana pun kamu jumpai, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusirmu.” (QS Al-Baqarah [2]: 191)
Masalah Palestina yang utama adalah penjajahan. Selama puluhan tahun, Zionis telah menggunakan kekuatan militernya untuk menyerang, membunuh, mengusir, dan menguasai wilayah Palestina secara brutal. Maka solusi hakiki dalam masalah ini sangat jelas, yaitu Jihad dengan mengirimkan bantuan militer secara resmi. Rakyat Palestina tak hanya butuh doa dan donasi, atau sekadar boikot produk penjajah. Saudara-saudara kita butuh pelindung fisik secara nyata untuk menghalau musuh dan mengusirnya dari tanah milik kaum muslimin.
Umat Islam memiliki potensi militer yang sangat besar. Sayangnya, kekuatan ini masih terpecah belah dalam sekat-sekat kebangsaan. Untuk menggerakkan kekuatan raksasa ini, dibutuhkan sebuah institusi pemersatu yang dalam fikih Islam disebut Khilafah Islamiyah, yang akan menyatukan seluruh potensi kekuatan umat Islam dalam satu kepemimpinan. Jika kekuatan ini berhasil disatukan, ia akan menjelma menjadi “adidaya” yang disegani. Khilafahlah yang akan melindungi umat Islam dari pendudukan dan kezaliman , tidak hanya di Palestina, tetapi kaum muslimin di seluruh dunia.
“Sesungguhnya Al-Imam (khilafah) itu adalah perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR Bukhari, Muslim)
Wallâhu a’lam bish-shawâb.
[Binar Iftikar]
Baca juga : Ingat! Derita Gaza Masih Belum Sirna