Sebagian orang kerap memandang sakit sebagai musibah yang memberatkan. Padahal jika melihatnya dari sudut pandang keimanan, ia bukan sekadar nyeri fisik yang menghambat aktivitas kita. Di balik rasa sakit ada begitu banyak karunia dan pahala kebaikan yang mungkin sulit didapatkan saat badan kita sehat.
Bila kepala pusing, tubuh demam, seluruh persendian sakit dan gerak fisik terhambat, kala itulah baru terasa, sehat itu nikmat. Mampu sholat dengan berdiri itu anugerah. Bahkan Alqur’an yang sering terabaikan, membacanya menjadi sebuah kerinduan.
Ketika tubuh terbaring lemah, barulah kita berhitung banyaknya masa yang terbuang. Meratapi kerugian kosongnya pahala. Sebab saat sehat waktu cenderung dihabiskan, untuk aktifitas dunia yang melalaikan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari)
Seperti Api Yang Membakar Dosa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“ bergembiralah wahai ummul ‘Ala , sesungguhnya sakitnya seorang muslim dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menghilangkan kesalahannya dengannya. Sebagaimana api menghilangkan karat emas dan perak.”(HR. Abu Daud)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Subhanahu wa Ta’ala akan menghapuskan sebagian dari dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sungguh Allah Maha Baik
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka dicatat baginya pahala seperti apa yang biasa ia lakukan ketika bermukim dan dalam keadaan sehat.”(HR Bukhari)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Barangsiapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan dengannya, niscaya Dia menimpakan musibah kepadanya”.(HR. Bukhari)
Dalam rangkaian perjalanan hidup di dunia ini, pada setiap peristiwa, kapanpun dimanapun, maka kita akan selalu menemukan hikmah baik di baliknya. Dan saat kita mampu memahaminya, maka tidak ada lagi keluh kesah. Yang tersisa hanyalah lantunan dzikir dalam raga yang sabar. Yang tertutur tentu rasa Syukur, “ Yaa Allah terimakasih sudah mengingatkanku”
WalLâhu a’lam. [Binar Iftikar]